izzza.comizzza.com

Rumah Adat Daerah Istimewa Yogyakarta

October 24, 2020 / Rumah Adat

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang beribukota di Yogyakarta. Yogyakarta sendiri merupakan kota yang kental sekali dengan adat jawa. Masyarakat disini sangat memegang erat adat dan budayanya itu. Yogyakarta juga merupakan kota yang memiliki tempat pariwisata yang sangat menarik, seperti candi, pantai,pusat perbelanjaan tradisional, keraton Kasultanan Ngayogyakarta, serta peninggalan situs dan ribuan peninggalan lainnya. Jadi, tak heran jika turis mancanegara pergi ke Yogyakarta untuk berpariwisata. Selain memiliki tempat wisata yang sangat menarik, Yogyakarta juga memiliki rumah adat yang sangat unik, tentunya juga kaya akan filosofi.

Rumah adat Yogya yang sangat populer adalah rumah adat joglo. Namun, bukan hanya rumah joglo saja, Yogyakarta juga memiliki beberapa rumah adat yang jarang diketahui oleh masyarakat luas. Berikut ini merupakan rumah adat Yogyakarta yang sangat istimewa dan memiliki keunikan di setiap bangunannya.

Rumah Adat Joglo

Sumber : blogspot.comblogspot.com

Setiap orang pasti sudah tidak asing lahgi dengan rumah joglo yang ada di Yogyakarta ini. Jenis rumah joglo ini merupakan ciri khas dari kota Yogyakarta. Bangunan ini memiliki ukuran yang sangat besar, material pembuatan dari rumah ini berasal dari kayu. Rumah ini juga memiliki desain yang sangat khas, dilihat dari penggunaan blandar yang bersusuk melebar ke atas yang juga disebut blandar tumpangsari.

Rumah tradisional ini memiliki 4 tiang penyangga utama yang letaknya ditengah, tiag tersebut dinamai saka guru. Selain itu, rumah ini juga memiliki kerangka yang berfungsi sebagai penguat serta penyiku bangunan supaya tidak dapat bergeser dari posisinya, kerangka tersebut dinamakan sunduk kili. Kerangka ini diletakkan pada ujung saka guru dan di bawah blandar. Rumah joglo ini berbentuk bujur sangkar.

Rumah joglo ini dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya adalah :

a. Pendapa, letaknya dibagian depan rumah joglo. Fungsinya sebagai tempat pertemuan, tempat untuk menyelenggarakan kesenian, serta tempat untuk melaksanakan upacara adat.

b. Pringgitan, letaknya di tengah-tengah antara pendapa dengan rumah dalam (omah njero). Jadi, pringgitan ini seperti lorong yang biasa digunakan untuk jalan masuk menuju rumah dalam. Selain itu, lorong ini juga biasa dijadikan sebagai tempat pagelaran wayang kulit.

c. Emperan, emperan ini disebut juga teras karena hanya memiliki lebar sekitar 2 meter. Fungsinya untuk menerima tamu.

d. Omah dalem, merupakan tempat tinggal. Biasanya masyarakat yogyakarta menyebutnya omah mburi atau dalem ageng.

e. Senthong kiwa, letaknya di sebelah kanan dan terdiri dari beberapa ruangan yang fungsinya sebagai tempat tidur, gudang, tempat persediaan makanan dan lain sebagainya.

f. Senthong tengah, letaknya di bagian dalam rumah. Fungsinya untuk menyimpan benda-benda berharga, seperti benda pusaka.

g. Senthong tengen, sama seperti senthong kiwa.

h. Gandhok,yaitu bangunan tambahan.

Rumah Adat Bangsal Kencono Keraton

Sumber : Mamikos

Rumah tradisional ini merupakan rumah adat yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekilas memang mirip dengan rumah joglo. Namun, rumah lebih luas, lebar, dan besar. Pada zaman dahulu, rumah ini merupakan tempat tinggal Raja.

Rumah adat Bangsal Kencono ini memiliki tambahan arsitektur dari Cina, Portugis, dan Belanda. Namun, secara keseluruhan rumah ini tetap memiliki ciri khas seperti rumah adat jawa. Ciri khas tersebut terletak pada bagian atas, dinding rumah, serta tiang penyangga yang ada dibangunan rumah.

Bangunan dan pondasinya dibuat tinggi sehingga harus ditopang dengan tiang penyangga di bagian tengahnya, atau biasa kita sebut saka guru.

Gentingnya dibuat menggunakan tanah liat atau tanah sirap. Sedangkan dindingnya menggunakan kayu dengan kualitas terbaik. Biasanya tiang dari rumah ini diberi warna hitm atau hijau tua. Sedangkan umpak batu diberi warna hitam keemasan. Lantainya terbuat dari bahan marmer atau granit yang memiliki struktur lebih tinggi dari permiukaan lainnya.

Ciri khas rumah adat Bangsal Kencono Yogyakarta :

– Memiliki ukuran yang sangat luas, lebar, dan besar. Karena fungsinya sebagai hunian Raja pada zaman dahulu. Sehingga setiap ruangan dibuat lebih besar sesuai dengan kebutuhan dari setiap ruangan.

– Terdapat arsitektur tambahan dari Cina, Portugis, dan Belanda yang dipadukan dengan arsitektur jawa. Di hakaman rumah ditanami oleh tumbuhan hijau serta terdapat sangkar burung. Hal tersebut menunjukkan filosofi yang mengutamakan kecintaan pada alam.

– Memiliki fungsi yang cukup banyak, selain menjadi hunian bagi Raja, rumah inin juga menjadi pusat penyeleggaraan upacara adat atau ritual keagaaman masyarakat sekitar.

Rumah Adat Limasan

Sumber : nazeefah.com

Rumah limasan ini merupakan rumah adat yang banyak sekali digunakan oleh masyarakat kota Yogyakarta. Karena desainnya yang sederhana dan tidak membutuhkan banyak biaya dalam pembuatannya. Limasan sendiri memiliki arti lima belasan. Perhitungan sederhana tersebut digunakan untuk pembuatan rumah yang sederhana dan berukuran kecil. Rumah limasan ini memiliki ukuran 5meter dan 3 meter.

Di dalam rumah limasan ini terdapat molo, yaitu kerangka rumah pada bagian atasyang berbentuk panjang lurus di ujung atapnnya. Molo tersebut merupakan perumpamaan dari kepala desadari manusia. Maka dari itu, sebelum molo dipasang tidak seorangpun boleh melangkahinya, karena hal tersebut merupakan pantangan.
Molo tersebut merupakan bagian yang paling sakral dari rumah limasan. Umumnya, jika molo berukuran 10 meter, maka ukuran blandar harus 15 meter. Rumah limasan ini di desain sesuaii kebutuhan pemilik rumah.

Di dalam rumah limasan ini terdapat 3 bagian, yakni ruangan depan, ruangan tengah dan ruangan belakang. Di ruang belakang terdapat bilik kiri atau senthong kiwo, bilik tengah disebut senthong tengah, serta bilik kanan atau senthong tengen.

Jika ada penambahan kamar akan diletakkan di bilik kanan atau bilik kiri. Untuk petani, bilik kiri digunakan sebagai tempat penyimpanan alat pertanian, bilik tengah untuk menyimpan hasil pertanian, sedangkan bilik kanan digunakan sebagai tempat tidur.

Rumah Adat Kampung

Sumber : WordPress.com

Rumah kampung ini merupakan rumah adat yang jumlah tiang penyangganya disesuaikan dengan dekorasi yang akan dibuat. Rumah ini hanya membutuhkan 8 tiang penyangga atau biasa disebut saka. Rumah kampung ini banyak mengalami perubahan. Disesuaikan dengan perkembangan desain serta keinginan pemilik rumah.

Keunikan Rumah Adat Yogyakarta

1. Arsitektur Bangunan yang khas
Rumah adat Yogyakarta memiliki arsitektur yang khas serta unik, yang membuatnya berbeda dengan rumah adat lainnya. Dari mulai bentuk arsitektur, ruangan di dalam rumah, serta fungsi spesifik di setiap bangunan rumahnya. Bahkan ada juga salah satu rumah adat Yogyakarta yang memiliki perpaduan antara arsitektur Cina, Portugis, dan Belanda dengan arsitektur Jawa.

Terlebih lagi, masing-masing bangunan yang menerapkan nilai filosofi jawa pada setiap bagiannya. Hal tersebut menjadi keunikan tersendiri dari rumah adat Yogyakarta ini.

2. Dibangun menggunakan Tiang Penyangga
Masing-masing rumah adat Yogyakarta pasti memiliki tiang penyangga yang biasa disebut dengan istilah “saka guru”. Tetapi masing-masing bangunan memiliki jumlah tiang yang berbeda.

3. Bahan Material
Pemilihan bahan material pada rumah tradisional khas Yogyakarta ini selalu menggunakan kayu jati. Karena kayu jati memiliki sifat keras, kokoh, dan dapat bertahan lama. Bahkan bisa sampai ratusan tahun lamanya.

4. Menggambarkan Status Sosial
Rumah adat seperti Joglo, membutuhkan biaya yang cukup banyak dalam pembuatannya, karena membutuhkan banyak material dan mahal seperti kayu jati. Hal tersebut menunjukkan status sosial dari pemilik rumah tersebut.

Izzza.com. Menulis dengan penuh cinta. Sejak 2020