izzza.comizzza.com

Rumah Adat Suku Bugis

November 1, 2020 / Rumah Adat

Suku Bugis merupakan salah satu suku di Indonesia yang menghuni wilayah Sulawesi Selatan. Yang sangat menarik dari suku ini adalah bahasa dan adat istiadatnya. Selain di Indonesia, suku Bugis juga terdapat di Malaysia dan Singapura. Hal tersebut dikarenakan orang-orang suku Bugis telah beranak pinak dan keturunannya telah menjadi bagian dari negara tersebut. Masyarakat Bugis ini mempunyai jiwa perantau, maka yak heran jika suku Bugis dapat ditemukan di mancanegara. Yang tak kalah menarik dari suku Bugis adalah kebudayaannya. Sampai saat ini mereka terus berpegang teguh terhadap adat istiadatnya dan selalu menjaga kebudayan lain yang mereka miliki. Contoh dari kebudayaan tersebut dapat kita lihat pada rumah adat suku Bugis.

Seperti kita tahu, setiap suku bangsa pasti mempunyai rumah adat yang berbeda-beda. Selain itu, rumah adat yang mereka miliki juga pastinya mempunyai keunikan serta ciri khas di setiap bangunnanya. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas lebih rinci mengenai rumah adat yang dimiliki oleh suku Bugis ini . Penasaran? Yuk kita simak ulasan berikut ini!

Rumah Adat Suku Bugis

Sumber : blogspot.com

Rumah adat yang dimiliki oleh suku Bugis ini dinamakan Rumah Panggung Kayu. Sama halnya dengan namanya, rumah adat ini berbentuk menyerupai rumah panggung yang dilengkapi dengan tiang-tiang. Berdasarkan status sosial pemilik rumah, rumah adat Bugis dibagi menjadi dua jenis, yakni rumah adat Saoraja (Sallasa) yang mempunyai arti rumah besar yang dihuni oleh raja (kaum bangsawan) dan rumah adat Bola yang mempunyai arti rumah yang dihuni rakyat biasa.

Kedua rumah adat tersebut sama-sama mempunyai bentuuk yang menyerupai rumah panggung dengan latai yang memiliki jaraak dengan tanah. Rumah ini mempunyai denah persegi panjang. Yang menjadi pembeda adalah rumah adat Saoraja mempunyai ukuran yang lebih luas dengan tiang penyangga. selain itu, rumah adat ini juga mempunyai atap yang berbentuk prisma yang digunakan sebagai penutup bubungan yang biasa di sebut timpak laja. Atap tersebut dinamakan timpak laja yang bertingkat antara tiga sampai lima sesuai kedudukan pemilik rumah.

Rumah adat Bugis ini tahan terhadap bajir dan gempa. Hal tersebut dikarenakan rumah adat ini sebenarnya menggunakan parelepang (fattoppo dan fadongko) yang tidak menyambung. Karena struktur kayu yang dimiliki oleh rumah adat ini tidak tersambung, maka getaran dengan frekuensi yang tinggi dapat diredam dengan baik. Tetapi, sangat sulit untuk menemukan kayu yang sangat panjang, sehingga masyarakat setempat menggantinya dengan pattolo (ukuran lebih kecil).

Jadi, jika tinggal di area yang rawan terhadap gempa, rumah Bugis ini bisa menjadi solusi supaya ketika terjadi gempa, rumah ini tetap dapat bertahan dengan kuat. Selain gempa, rumah ini juga tidak mudah terbawa oleh banjir. Namun, dengan catatan banjir tersebut tidak lebih dari 2 meter sehingga pondasi rumah adat ini tidak mudah terbawa arus banjir.

Rumah tradisional suku Bugis adalah salah satui contoh rumah Asia Tenggara, yaitu rumah panggung yang terbuat dari kayu. Rumah ini juga mempunyai atap berlereng dua serta kerangka yang berbentuk huruf “H”. Kerangka tersebut terdiri dari tiang dan balok yang telah dirakit tenpa menggunakan pasak atau paku. Tiang inilah yang menopang lantai serta atap sedangkan dindingnya diikat di tiang luar.

Konsep rumah seperti ini yang memudahkan rumah tersebut mudah dibongkar atau dipindahkan . hal tersebut menyebabkan permukiman orang-orang suku Bugis sering berpindah dan tiadak permanen.

Rumah adat Bugis ini juga mempunyai keunikan tersendiri lho, jika dibandingkan dengan rumah adat panggung suku lain yang ada di Sumatera Utara dan Kalimantan. Rumah ini berbentuk memanjang ke belakang, dengan tambahan yang terletak di samping bangunan utama serta bagian depan.

Arsitektur Rumah Adat Suku Bugis

Sumber : indonesiakaya.com

1. Alliri (Tiang)

Pada awalnya, rumah adat Bugis ini hanya dioeruntukkan bagi kalangan bangsawan. Hanya kaum bangsawan yang menggunakan tiang segi empat atau segi delapan. Sedangkan orang dari kalangan rakyat biasa hanya diperbolehkan memakai tiang yang berbentuk bundar. Tiang rumah ini bertumpu di atas yanah serta berdiri hingga lke loteng dan menopang atap. Namun, pada saat ini banyak sekali rumah besar yang tiangnya tidak lagi ditanam, melainkan hanya di tumpuk di atas batu. Biasanya terdiri dari 4 batang pada setiap barisnya. Jumlahnya juga tergantung jumlah ruangan yang dibuat. Namun pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris tiang. Jadi, jika ditotal jumlah tiang yang dimiliki rumah adat Bugis adalah 12 batang tiang.

2. Awa Bola (Kolong Rumah)

Awa bola merupakan kolong yang letaknya di bagian bawah bangunan rumah adat. Lebih tepatnya di antara lantai dengan tanah. Pada zaman dahulu, kolong ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan alat pertanian, alat berburu, dan lains sebagainya.

3. Ale Bola ( Badan Rumah)

Merupakan rumah yang terdiri dari klantai serta dinding yang diletakkan di antara lantai dan loteng. Di bagian ini terdapat ruang yang difungsikan dalam aktivitas sehari-hari. Contohnya seperti menerima tamu, tidur, bermusyawarah dan lain sebagainya. Badan rumah terdiri dari beberapa bagian, yakni Lotang risaliweng. Bagian rumah tersebut dibgunakan sebagai tempat untuk menerima tamu, tempat tidur bagi tamu, tempat musyawarah , serta tempat yang digunakan untuk membaringkan mayat sebelum dimakamkan.

4. Arateng dan Ware’ (Penyangga Lantai dan Penyangga Loteng)

Setiap tiang dilunbangi segu empat untuk menyisipkan balok pipih penyangga lantai dan balok pipih penyangga loteng, yang menjadi oenghubung panjang rangka rumah. Pada zaman dahulu, jika tiang rumah ditanam, maka tidak perlu menggunakan balok penyangga loteng. Kemudian balok penyangga lantainya tidak lagi disisipkan dii tiang, tetapi diikat.

5. Posi’ Bola (Pusat Rumah)

Struktur dasar rumah adat Bugis terdiri dari 3 kali 3 tiang (3 barisan tiang memanjang serta 3 baris melebar) yang bentuknya persegi empat dengan satu tiang yang terletak disetiap sudut. Kemudian di setiap sisi terdapat satu tiang tengah dan di tengah persilangan panjang dan lebar terdapat sebuah tiang yang dinamakan “pusat rumah”. Pada umumnya, rumah rakyat biasa ganya terdiri daro empat tiang yang digunakan untuk panjang dan empat tiang yang digunakan untuk lebar rumah.

6. Timpa’ Laja

Ciri khas yang paling menonjol dalam rumah adat Bugis kaum bangsawan adalah jumlah bilah papannya yang menyusun dinding di bagian muka atap rumah adat (timpa Laja).

7. Addengdeng (Tangga)

Hanya golongan ana’ cera ke atas yang bisa menggunakan tangga yang naik membujur. Dan hanya kaum bangsawan saja yang bisa menggunakan tangga yang berlatar miring tanpa adanya anak tangga. Tangga ini terbuat dari bilah bambu yang sangat licin dan dunamajan sapana.

8. Tamping

Di bagian sisi panjang biasanya ditambahkan tamping. Tampng ini merupakan serambi memanjang yang mempunyai lantai lebih rendah dengan atapnya. Pintu masuk di bagian dean berada di ujung depan tamping. Jika dapur tidak terpisah, maka akan diletakkan di ujung belakang di belakang tamping.

9. Rakkekang

Bagian ini merupakan terketak di atas langit-langit. Biasanya difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan padi yang sudah dipanen.

10. Anjong

Selain difungsikan sebagai hiasanr rumah, bagian inijuga mempunyai makna tertentu. Anjong adalah ciri khas yang dimiliki orang bugis. Rumah kaum bangsawan mempunyai lebih dari dua anjong, sedangkan rumah orang biasa tidak lebih dari dua Anjong.

Nah, itulah penjelasan lebih rinci mengenai rumah adat Suku Bugis. rumah ini dapat menjadi penanda status sosial pemilik rumah. Sungguh menarik bukan? Jika kita ingin berkunjung ke rumah adat ini, kita bisa datang langsung ke provinsi Sulawesi Selatan. Selain berpariwisata, kita juga dapat mempelajari lebih dalam sejarah dari rumah adat ini.

Izzza.com. Menulis dengan penuh cinta. Sejak 2020