izzza.comizzza.com

Rumah Adat Papua

October 27, 2020 / Rumah Adat

Papua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang letaknya di bagian tengah Pula Papua atau bagian paling timur wilayah Papua milik Indonesia. Di bagian belahan timur Papua merupakan negara Papua Nugini. Provinsi yang sebelumnya bermana Irian Jaya ini mecakup seluruh wilayah Papua Barat. Papua mempunyai wilayah yang sangat besar, bahkan dua kali lipat lebih luas jika dibandingkan dengan Pulau Jawa. Selain itu, Papua dikenal mempunyai banyak sekali keberagaman budaya .hal tersebut dikarenakan banyaknya suku yang menghuni wilayah ini. suku-suku terebut sangat berpengaruh terhdapa kebudayaan yang dimiliki oleh Papua. Salah satu kebudayaan tersebut dapat kita lihat pada rumah adat Papua.

Seperti kita tahu, pasti setiap rumah adat mempunyai ciri khas serta keunikan tersendiri, begitu juga dengan Papua. Jika kita membahas mengenai rumah adat papua pasti dipikiran kita akan terlintas rumah adat Honai, faktanya Papua bukan hanya memiliki rumah adat Honai sebagai rumah adatnya, melainkan ada rumah adat lain yang belum banyak kita kitahui. Penasaran apa saja rumah adat yang dimiliki oleh Papua? Yuk kita simak ulasan berikut ini!

Rumah Adat Honai

Sumber : romadecade.org

Rumah adat Papua pertama yang akan kita bahas adalah rumah Honai. Pasti rumah adat ini sudah tidak asing di telinga kita. Rumah adat Honai ini merupakan rumah adat suku Dani. Nama dari rumah adat ini merupakan gabungan dari kata “hun” atau laki-laki dan “ai” yang artinya rumah. Jika kedua kata tersebut digabungkan akan mempunyai rumah llaki-laki. Ternyata, rumah Honai ini memang dikhususkan untuk laki-laki lho. Dan hanya laki-laki dewasa dari suku Dani saja yang boleh memasukinya. Selain suku Dani, ada suku lain yang menggunakan rumah adat ini. Suku tersebut merupakan suku Yali dan suku Lani yang mempunyai populasi sekitar 100.000 jiwa. Suku tersebut merupakan suku Tetangga dari suku Dani.

Biasanya rumah adat ini dibangun di ketinggian 1.600 sampai 1.700 meter. Rumah Honai ini berbentuk seperti jamur dengan atap kerucut. Atap rumah ini dibuat dengan jerami dan jika kita lihat sekilas, rumah ini hampir mirip demhan rumah adat NTT, Mbaru Niang. Selain itu, rumah ini mempunyai dinding yang dibuat dri bahan kayu serta mempunyai ketinggian sekitar 2,5 meter.

Rumah tradisional ini mempunyai dua lantai tanpa jendela, hanya ada satu pintu yang digunakan untuk masuk dan keluar rumah. Lantai bawah difungsikan sebagai tempat berkumpul keluarga dan untuk kegiatan lainnya. Sedangkan lantai bawah digunakan untuk tidur. Sebagai alas untuk tidur, suku Dani memakai rumput yang telah dikeringkan.

Rumah Honai ini sengaja dibuat sempit supaya dapat menahan suku dingin di pegunungan. Rumah yang sempit dapat membuat ruangan menjadi hangat. Di bagian dalam ruangan ini terdapat ruang kecil yang ukurannya kurang lebih 5 meter dengan area tengah yang dibentuk lingkaran dan digunakan untuk tempat api unggun sekaligus untuk penerangan.

Rumah tradisional ini dibangun secara berkelompok, 1 keluarga dapat memiliki beberapa rumah. Satu rumah digunakan sebagai tempat tinggal sedangkan rumah lainnya digunakan untuk tempat ternak. Babi merupakan binatang ternak yang dianggap sangat berharga bagi mereka.

Selain itu, rumah Honai ini juga biasa digunakan sebagai tempat penyimpanan mumi di bawahnya. Bisa juga difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan alat peperangan maupun warisan nenek moyang yang menjadi simbol dari suku mereka. Rumah tradisional ini juga dapat digunakan sebagai tempat untuk melatih anak laki-laki supaya menjadi pria kuat ketika dewasa nanti, rumah ini juga digunakan sebagai tempat dalam menyusun strategi perang.

Jika kita ingin menjumpai rumah adat Honai ini, kita bisa datang ke area Lebah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Rumah Adat Rumsram

Sumber : guratgarut.com

Rumah adat Papua berikutnya yang akan kita bahas adalah rumah adat Rumsram dari suku Biak Numfor. Suku ini bermukim di pulau-pulau dan bekerja sebagai nelayan. Rumah ini juga dihuni oleh laki-laki. Fungsi utama dari rumah ini adalah sebagai tempat untuk melatih anak laki-laki menjadi pria kuat ketika mereka dewasa nanti. selain itu, mereka juga bisa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga serta mampu melindungi sukunya.

Rumah adat ini berbentuk menyerupai rumah panggung dengan bentuk persegi. Rumah ini sama dengan rumah pesisir pada umumnya. Rumah ini mempunyai atap yang berbentuk seperti perahu terbalik, yang menjadi identitas jika pemilik rumah merupakan seorang nelayan. Rumah ini memiliki tinggi mencapai 6 sampai 8 meter serta dihiasi dengan berbagai ukiran di beberapa bagiannya.

Sama halnya seperti rumah adat Honai, rumah ini juga mempunyai dua lantai. Lantai pertama merupakan ruangan terbuka yang tidak mempunyai dinding. Lantai tersebut difungsikan sebagai tempat untuk mendidik anak laki-laki. Misalnya seperti memahat, membuat perahu, mengajari cara berperang, serta keahlian lainnya. Sedangkan lantai duanya difungsikan sebagai hunian.

Lantai dari rumah ini terbuat dari kulit kayu dan dindingnya dibuat dari pohon bambu yang dicacah. Berbeda dengan rumah adat Honai, rumah adat Rumsram ini mempunyai jendela denganbagian atap yang dibuat dari daun sagu.

Rumah Adat Ebai

Sumber : papuanews.org

Rumah adat Ebai ini hampir sama dengan rumah Honai. Nama Ebai diambil dari gabungan kata “ebe” yang berarti tubuh, dan “ai” yang artinya rumah.

Ebeai kemudaian menjadi Ebai, yang merupakan rumah bagi perempuan. Mulai dari ibu, anak perempuan serta anak laki-laki. Tetapi, setelah anak laki-laki tersebut telah dewasa, ia harus tinggal di Rumah Honai.

Rumah tradisional ini juga digunakan sebagai tempat untuk mengajari anak perempan mengenai apa saja yang harus dilakukan ketika mereka sudah dewasa dan menikah nantinya.

Rumah ini berbentuk menyerupai rumah Honai, tetapi mempunyai ukuran lebih pendek. Letak rumah ini pun juga berdampingan dengan rumahi Honai, rumah ini mempunyai pintu yang dibuat tidak sejajar dengan pintu rumah Honai.

Rumah Adat Kariwari

Sumber : moondoggiesmusic.com

Rumah adat Papua selanjutnya adalah rumah adat Kariwari. Rumah adat ini adalah rumah adat yang dihuni oleh suku Tobati-Enggros yang menghuni tepi danau Sentani di Jayapura. Rumah ini khusus dibuat untuk laki-laki yang sudah berusia 12 tahun.

Rumah ini juga dijadikan sebagai tempat untuk mendidik anak laki-laki. Mulai dari berbagai keahlian, mencari nafkah, cara berperang serta melindungi sukunya.

Rumah ini sangat unik karena mempunyai bentuk segi delapan. Dibentuk dengan demikian, supaya rumah ini dapat menahan embusan angin yang sangat kuat. Rumah adat ini mempunyai atap yang berbentuk kerucut. Atap dari rumah ini juga mempunyai makna yang erat dengan kepercayaan masyarakat setempat, yakni mendekatkan diri dengan para leluhur.

Rumah ini mepunyai tinggi mencapai 20 sampai 30 meter dengan 3 lantai. Lantai yang pertama digunakan sebagai tempat mendidik anak laku-laki. Lantai kedua digunakan untuk ruang pertemuan kepala suku dan digunakan untuk tidur anak laki-laki pada malam hari. Lantai ketiganya digunakan sebagai tempat berdoa dan meditasi.

Rumah Adat Kaki Seribu

Sumber : bisniswisata.co.id

Rumah adat berikutnya adalah rumah adat Kaki Seribu di Papua Barat. Rumah adat ini merupakan rumah adat suku Pegunungan Arfak, yang meliputi Hatam, Moille dan Sough.

Rumah ini berbentuk menyerupai rumah panggung dan mempunyai bagian kaki rumah yang dijadikan sebagai pondasi yang terdiri dari kayu bulat kecil yang jumlahnya sangat banyak. Maka dari itu, rumah ini dinamakan sebagai Mod Aki Aksa atau Lqkojei atau rumah Kaki Seribu.

Rumah Adat di Atas Pohon

Sumber : BBC.com

Rumah adat Papua yang terakhir adalah rumah adat di Atas Pohon dari suku Korowai. Rumah ini dibangun di atas pohon dengan kletinggian mencapai 15-30 meter dari permukaan tanah.

Rumah ini memiliki dinding yang dibuat dengan bahan material yang berasal dari kayu dan atap yang dibangun dengan daun.

Suku Korowai ini membuat rumah mereka di atas pohon untuk mengindari serangan binatang buas serta roh jahat laleo. Laleo ini merupakan orang asing yang bukan bagian dari suku mereka. Sayangnya, kini populasi suku Korowai hanya tersisa tiga ribu orang sehingga rumah adat dari suku ini juga hampir punah.

Nah itu tadi penjelasan mengenai rumah adat yang ada di Papua. Semoga dengan membaca artikel ini wawasan pengetahuan kita menjadi semakin luas serta semakin menambah kacintaan kita pada negara Indonesia yang kaya akan budaya ini.

 

Izzza.com. Menulis dengan penuh cinta. Sejak 2020