izzza.comizzza.com

Rumah Adat Gorontalo

October 27, 2020 / Rumah Adat

 

 

Sumber : satujam.com

Gorontalo merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berdiri pada tanggal 5 Desember 2000. Provinsi ini memiliki ibu kota yang bernama sama dengan provinsinya, yakni Gorontalo. Provinsi ini dikenal dengan julukan “Serambi Madinah”. Hal tersebut dikarenakan tradisi masyarakatnya yang mengacu pada ajaran Agama Islam. Kebudayaan Agama Islam tersebut sangat melekat dan sangat berpengaruh terhadap provinsi Gorontalo ini. Hal tersebut terlihat pada arsitektur bangunan rumah adat Gorontalo.

Gorontalo sendiri mempunyai dua jenis rumah adat, yakni rumah adat Bantayo Poboide dan rumah adat Dulohupa. Kedua rumah adat tersebut menjadi bukti kuatnya pengaruh Agama Islam pad Gorontalo. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai rumah adat Gorontalo, yuk simak ulasan berikut ini :

Rumah Adat Bantayo Poboide

Sumber : satujam.com

Bantayo sendiri bermakna gedung atau bangunan, sedangkan poboide memiliki arti tempat bermusyawarah. Jika kedua kata tersebut digabungkan, maka akan memiliki makna sebagai bangunan yang digunakan sebagai tempat bermusyawarah. Sesuai dengan namanya, fungsi dari rumah adat ini adalah sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan musyawarah bagi masyarakat Gorontalo. Atau dapat pula disebut sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, ketika hendak melakukan musyawarah.

Selain difungsikan sebagai tempat untuk melakukan musyawarah, bangunan tradisional ini juga mempunyai fungsi lainnya. Adapun fungsi tersebut adalah sebagai tempat untuk melaksanakan upacara adat, upacara pernikahan, penerimaan tamu penting, dan lain sebagainya. Bangunan ini dibangun mengguunakan bahan material yang berasal dari kayu hitam dan kayu coklat kemerahan. Kayu jenis ini dipercaya memiliki daya tahan yang sangat kuat, sehingga cocok jika digunakan sebagai bahan material pembangunan rumah adat.

Terdapat komposisi pemilihan kayu selama proses pembangunan rumah adat. Kayu hitam biasa digunakan untuk membuat bagian kusen, pagar blankon, ukiran pada ventilasi udara, dan juga pegangan tangga. Sedangkan kayu coklat difungsikan untuk membuat pintu, jendela, lantai, serta dinding.

Rumah tradisional Gorontalo ini didirikan diatas tanah dengan luas sekitar 515,16 meter persegi. Pada bagian depan rumah ini terdapat 8 tiang yang disemar dengan komposisi yang pas. Komposisi tersebut terdiri dari 2 tiang yang diletakkan di bagian luar, sedangkan 6 tiang yang lain diletakkan di bagian lainnya. Peletakan tiang tersebut memiliki makna tersendir bagi pembuatnya.

Dua tiang yang diletakkan di bagian depan rumah mempunyai ukuran yang lebih besar, biasanya disebut Wolihi. Tiang-tiang tersebut menancap ke tanah, tiang tersebt berfungsi sebagai penyangga kerangka atap gedung. Wolihi sendiri melambangkan kerajaan Limutu dan Gorontalo. Dimana kedua kerajaan tersebut bertekat untuks selalu menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan yang berlangsug abadi. Sedangkan 6 tiang yang lain melambangkan ciri khas dari masyarakat lou duluwo limo lo pahalaa.

Jika kita melihat rumah adat ini dengan seksama, kita akan menemukan 2 tiang yang terlihat menghiasi bangunan tradisional Bantayo Poboide ini.

Rumah ini dilengkapi dengan tangga yang terletak di sisi kiri, tangga tersebut berfungsi untuk masuk ke dalam rumah, dan tangga di sisi kanan yang dijadikan sebagai tempat untuk meninggalkan rumah adat. Kedua tangga tersebut memiliki jumlah anak tangga yang sama, yakni berjumlah 8. Angka 8 ini melambangkan 8 linula, yang berhasil menguatkan kerajaan Limutu.

Rumah tradisional Gorontalo yang satu ini ditopang oleh 32 tiang dasar yang fungsinya sebagai pondasi rumah adat. Penggunaan 32 tangga tersebut melambangkan penjuru mata angin. Lambang tersebut mempunyai arti, supaya penguasa negeri terus memperhatikan kepentingan rakyat tanpa pandang bulu.

Untuk bahan material dalam pembuatan rumah ini menggunakan kayu pilihan yang asalnya dari hutan tua di Gorontalo. Selain itu, rumah adat ini mempunyai ukiran bunga suku (amu). Bunga tersebut digunakan untuk menghiasi 2 tangga dan bagian dasar pelepedolan sulambe. Tak hanya itu, di dalam bangunan ini juga terdapat lampu yang digantung pada langit-langit yang dihiasi oleh bunga teratai besar.

Rumah ini juga dilengkapi dengan ruang lainnya selain ruang utama. Ruangan ini jarang diketahui oleh siapapun. Ruangan ini adalah ruang untuk menerima tamu, ruang persidangan, serta ruang serba guna yang biasa digunakan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan kerajaan. Ruang serbaguna ini juga biasa digunakan sebagai ruang privasi untuk raja dan keluarganya.

Rumah adat Bantayo Poboide ini mempunyai sekat di bagian dalam bangunannya. Terdapat 4 bagian utama yang disekat dalam gedung ini , yaitu ruang dalam, ruang belakang, ruang tengah, dan ruang tamu. Ruang tamu yang dimiliki oleh rumah adat ini berbentuk memanjang, dengan tambahan kamar si setiap ujung bagian kanan dan kirinya. Bagian ruang tengahnya mempunyai ukuran paling luas daripada ruang lainnya.

Di ruang tengah, terdapat pula dua kamar yang diletakkan di sisi kiri ruangan. Kamar ini mempunyai bentuk serta ukuran yang sama seperti kamar pada ruang tamu. Hanya saja, kamar ini mempunyai pintu yang digeser ke samping. Ruang tengah yang dimiliki oleh rumah adat ini sangat istimewa karena digunakan sebagai tempat beraktifitas. Di ruang belakang rumah adat ini terdapat dapur dan kamar mandi dengan letak memanjang.

Rumah Adat Dulohupa

Sumber : taldebrooklyn.com

Rumah adat Dulohupa ini mempunyai fungsi yang berbeda dengan rumah adat sebelumnya. Jika rumah adat sebelumnya digunakan sebagai tempat untuk bermusyawarah, maka bangunan ini mempunyai arti mufakat. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan musyawarah dan mendapatkan mufakat. Bida dikatakan jika rumah adat Dulohupa ini merupakan pengadilan.

Ada 3 hukum yang diterapkan pada tempat ini, yaitu Buwato Syara, Buwato Bala, dan Buwato Adati. Setiap hukum tersebut mempunyai cara berbeda untuk mengadili seseorang yang bersalah. Buwato Syara, adalah hukum yang didasarkan pada agama Islam. Buwato bala, hukum pertahanan atau keamanan yang digunakan untuk mengadili prajurit. Dan yang terakhir Buwato Adati, hukum adat yang dipercaya masyarakat.

Dari tahun ke tahun, bangunan rumah adat ini beralih fungsi menjadi tempat untuk melaksanakan upacara pernikahan, pertunjukan budaya dan berbagai upacara adat lainnya.

Rumah adat Dulohupa ini disangga oleh 2 pilar utama yang dinamakan Wolihi, serta 6 tiang yang letaknya di bagian depan. Selain itu, terdapat 32 pilar dasar (potu) yang fungsinya menyangga bangunan rumah adat. Rumah ini juga dilengkapi dengan tangga yang diletakkan di sisi kanan dan kiri bangunan. tangga tersebut merupakan simbol adat yang bernama Tolitihu.

Pada bagian atap rumah adat ini menggunakan bahan materiak jerami yang telah dianyam. Bentuk atap ini seperti pelana segitiga yang disusun menjadi 2. Bagian atap ini melambangkan syariat serta adat masyarakat Gorontalo.

Atap dari rumah adat ini dibuat menjulang tinggi, hal tersebut melambangkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, rumah adat ini juga mempunyai atap lebih rendah yang menggambarkan kepercayaan kepada adat istiadat di Gorontalo.

Beberapa dari bagian rumah adat ini menggunakan material kayu. Bagian tersebut merupakan lantai, pagar serta tangga. Rumah adat ini sangat unik, hal tersebut terlihat pada anjungannya yang digunakan sebagai tempat beristirahat Raja dan Keluarganya pada zaman dahulul.

Nah, itu tadi ulasan lengkap mengenai rumah adat yang ada di Gorontalo. Mulai dari keunikannya, pembagian ruangan, dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Jika dilihat dari keseluruhan, rumah adat ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Hal tersebut dikarenakan Gorontalo adalah wilayah kekuasaan dari kerajaan Islam pada zaman dahulu. Sehingga, tidak heran jika kebudayaan Islam sangat kuat disini. Bahkan hukum yang berlaku di Gorontalo juga bersangkutan dengan agama Islam.

Izzza.com. Menulis dengan penuh cinta. Sejak 2020