izzza.comizzza.com

Rumah Adat di Indonesia

October 23, 2020 / Rumah Adat

Sebagai warga negara Indonesia kita pasti tahu jika Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak sekali keberagaman. Mulai dari keberagaman wilayah dan lingkungan, keberagaman suku bangsa dan budaya, keberagaman agama, ras, serta keberagaman golongan.

Nah, pada kali ini kita akan membahas mengenai salah satu keberagaman yang ada di Indonesia yaitu rumah adat. Rumah adat merupakan rumah tradisional yang memiliki ciri khas khusus sesuai dengan adatnya. Rumah ini digunakan sebagai hunian oleh suatu suku bangsa tertentu. Serta djuga adigunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ritual tertentu . Berikut ini akan kami sajikan beberapa rumah adat yang ada di Indonesia.

Rumah Adat Joglo (Jawa Tengah)

Sumber: karyapemuda.com

Setiap rumah adat pasti memiliki keunikan tersendiri yang menjadi pembeda antara rumah adat lainnya. Rumah adat joglo ini dibuat dengan susunan kayu yang proporsional. Di setiap bangunannya terbentuk selalu sebanding antara yang satu dengan yang lainnya. Arsitektur rumah joglo ini cukup unik karena menggambarkan segala sesuatu tentang kehidupan serta aktivitas masyarakat jawa. Rumah ini sangat kokoh karena disetiap bangunannya menggunakan kayu jati, sehingga dapat lebih awet dan tahan lama.

Rumah yang terdiri dari pendapa, pringgitan, dalem, sentong, gandok tengen, dan gandok kiwo ini biasanya digunakan sebagai tempat pertemuan acara besar, tempat pagelaran seni dan tempat ritual yang sakral.

Rumah Adat Gadang (Sumatera Barat)

Sumber : Pinterest

Rumah gadang adalah rumah adat Minangkabau yang berasal dari provinsi Sumatera Barat. Rumah gadang disebut juga sebagai rumah godang. Keunikan rumah ini terdapat pada setiap bagian atapnya yang berbentuk seperti tanduk yang melengkung dan lancip. Dahulu rumah ini dibuat dari bahan ijuk yang tahan hingga puluhan tahun. Namun seiring berkembangnya zaman rumah ini tidak lagi menggunakan ijuk tetapi diganti dengan menggunakan seng. Jumlah kamar rumah ini tergantung oleh jumlah perempuan yang tinggal didalamnya.

Rumah Adat Honai (Papua)

Sumber : romadecade.org

Honai merupakan rumah adat papua khususnya di bagian pegunungan. Papua dikenal memiliki kebudayaan yang beraneka ragam, sampai saat ini masih banyak sekali masyarakat papua yang masih memegang kuat budayanya. Rumah ini sangatlah unik karena didesain menyerupai jamur. Rumah ini berbentuk lingkaran dengan rangka kayu berdinding anyaman dengan atap kerucut yang dibuat dari tumpukan jerami. Kekayaan ilmu yang dimiiki oleh arsitektur Honai ini sangatlah unik karena materialnya yang 100% terbuat dari bahan alami.

Rumah Adat Limas (Sumatera Selatan)

Sumber : WordPress.com

Rumah adat Limas ini merupakan rumah tradisional Sumatera Selatan. Atapnya berbentuk limas serta memiliki lantai yang bertingkat. Selain digunakan sebagai hunian, rumah ini biasa digunakan untuk kepentingan keluarga, misalnya seperti hajatan. Kontruksi rumah limas adalah bentuk rumah panggung. Rumah ini memiliki keunikan tersendiri loh, karena didalam bangunannya memiliki ragam hias yang mencerminkan identitas masyarakat sekitar. Rumah ini dibuat selalu menghadap ke Timur dan Barat atau dalam falsafah mengahdap ke arah matahari terbit dan terbenam. Kalian pasti tidak asing lagi dengan rumah ini kan? rumah ini merupakan rumah adat yang terdapat pada uang pecahan Rp. 10 ribu rupiah. Mengapa? Karena selain memiliki sejarah rumah ini juga kaya akan filosofi.

Rumah Adat Bangsal Kencono (Yogyakarta)

Sumber : baabun.com

Rumah adat yang berasal dari Yogyakarta ini merupakan rumah khas Kerajaan Mataram atau Keraton Yogyakarta. Jika kita berkunjung di keraton Yogyakarta kita pasti menjumpai Rumah adat ini. Rumah Tradisional ini berbentuk Joglo dengan halaman yang luas, ditumbuhi berbagai tanaman dan beberapa sangkar burung. Di depan Rumah Bangsal Kencono ini terdapat dua patung Gupolo yangmemegang Gada atau sejenis alat pemukul.
Selain digunakan sebagai tempat tinggal Raja, rumah adat ini juga digunakan untuk acara pertemuan penting pada zaman dahulu. Rumah adat ini merupakan Cagar Budaya karena sampai saat ini masih menjadi poros identitas utama masyarakat Yogyakarta. Bangsal Kencono ini berperan penting dalam perjalanan sejarah Keraton Yogyakarta termasuk peradaban dan bukti eksistensi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Rumah Panjang (Kalimantan Barat)

Sumber : nesabamedia.com

Rumah panjang merupakan ciri khas dari masyarakat Suku Dayak yang tinggal di daerah Kalimantan Barat. Rumah adat ini merupakan gambaran sosial kehidupan Dayak di Kalmimanta Barat. rumah tradisional ini sangatlah unik, karena bentuknya yang seperti panggung dan memanjang. Sekarang rumah panjang ini hampir punah karena jumlahnya yang tinggal sedikit. Hal itu disebabkan oleh pemerintah yang menghancurkan rumah tersebut karena dicurigai sebagai penganut paham komunis. Selain digunakan sebagai hunian, bangunannya yang tinggi dapat digunakan untuk menghindari serangan binatang buas juga serangan dari suku lain dalam masyarakat Dayak. Tak hanya itu,rumah panjang ini juga biasa digunakan sebagai tempat pertemuan serta dipakai untuk upacara adat atau ritus-ritus yang ada dalam masyarakat Dayak.

Rumah Adat Angkul-Angkul (Bali)

Sumber : kintamani.id

Rumah adat Bali bagian pertama ini merupakan pintu utama rumah adat suku Bali. Bentuknya seperti gapura Candi Bentar namun memiliki atap tradisional yang menggabunggan dua pilar.
Keunikan dari bangunan ini adalah pada atapnya yang penuh dengan ukiran artistik. Di bagian kanan dan kiri rumah adat ini terdapat 2 patung yang sama-sama menghadap kedepan. Sangat indah sekali bukan Rumah adat khas Bali ini.

Rumah Adat Bolon (Sumatera Utara)

Sumber : blogspot.com

Rumah adat ini merupakan rumah dari suku Batak yang sangat mencerminkan identitas dari masyarakat suku Batak yang tinggal di Sumatera Utara. Rumah ini berbentuk persegi empat dan modelnya seperti rumah panggung. Rumah ini ditopang oleh beberapa tiang penyangga yang juga merupakan lantai dari rumah bolon tersebut. Pada bagian atap rumah ini berbentuk melengkung dari bagian depan ke belakang. Rumah ini tidak memiliki sekat atau pembatas yang berfungsi sebagai kamar. Namun hanya terdiri dari tiga bagian yaitu jabu bona, jabu soding, dan jabu suhat.

Rumah Adat Krong Bade (Nanggroe Aceh Darussalam)

Sumber : WordPress.com

Rumah adat ini merupakan hunian atau tempat tinggal yang digunakan oleh masyarakat Aceh di daerah Serambi Mekkah. Yang paling unik dari rumah ini adalah dibangun tanpa paku sedikitpun. Karena hanya butuh merekatkan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Untuk menghubungkannya masyarakat Aceh menggunakan tali yang berbahan dasar rotan. Bahan dasar dari pembuatan rumah ini hanya mengandalkan bahan-bahan alami.

Rumah Adat Rakit Limas (Bangka Belitung)

Sumber : pintarnesia.com

Rumah adat rakit limas ini menggunakan arsitektur Melayu dalam pembuatannya. Rumah ini dibangun di dekat sungai Musi, dan dihuni oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Rumah inilah yang menjadi cikal bakal adanya provinsi Bangka Belitung. Bahkan rumah adat ini sudah ada sejak Kerajaan Sriwijaya. Bahan dasar pada pembuatan dinding rumah tersebut dibuat dari papan kayu. Atapnya menggunakan daun kering nipah, sedangkan untuk mengikat atap, masyarakat Bangka Belitung hanya menggunakan rotan.

Rumah Adat Panggung Kajang Leko (Jambi)

Sumber : budaya-indonesia.org

Rumah adat yang terbuat dari bahan dasar kayu ini dikenal dengan rumah adat Kajang Lengko. Didalamnya terdapat ruangan yang dibagi menjadi 8, yakni jogan yang digunakan untuk tempat istirahat keluarga dan ruang untuk menyimpan air, serambi depan yang digunakan untuk menerima tamu laki-laki, amben melintang yang khusus untuk kamar pengantin, serambi dalam untuk ytempat tidur laki-laki, serambi belakang yang berfungsi sebagai tempat tidur untuk perempuan dan anak-anak yang belum menikah,ruang yang digunakan untuk menerima tamu perempuan, garang yang fungsinya untuk tempat penyimpanan air, serta dapur yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan kegiatan memasak.

Rumah Adat Rakyat (Bengkulu)

Sumber : karyapemuda.com

Rumah adat yang menyerupai rumah panggung dengan atap yang berbentuk limas ini dikenal dengan rumah adat Bengkulu. Rumah ini digunakan seagai hunian oleh kepala adat, acara pernikahan, sebagai tempat penyambutan tamu,ritual adat, serta jika ada kematian. Desainnya sangatlah cantik, bahan untuk pembuatan rumah ini terbuat dari kayu medang kemuning yanbg bisa tahan sampai ratusan tahun loh. Sedangkan lantainya sediri terbuat dari papan. Selain desainnya yang cantik, rumah ini juga tahan terhadap gempa. Bahkan bagian bawahnya dapat digunakan untuk menyimpan hasil panen petani.

Rumah Adat Nowou Sesat (Lampung)

Sumber : blogspot.com

Saat ini rumah ini mengalami banyak perubahan karena dibangun lebih modern daripada sebelumnya. Namun, sampai saat ini masih ada masyarakat lampung yang tetap mempertahankan bentuk asli rumah ini. Rumah ini dibangun mengikuti aliran jalur perkampungan. Masyarakat percaya bahwa rumah ini menjadi bentuk semangat keterbukaan, kekuatan, kenyamanan, dan keindahan yang dianutnya.

Rumah Adat Baduy (Banten)

Sumber : indonesiakaya.com

Rumah adat yang dikenal dengan nama sulah nadya ini merupakan rumah adat yang dihuni oleh suku Badui yang ada di Banten. Bangunannya menghadap ke arah utara dan selatan karena masyarakat setempat percaya jika arah barat dan timur tidak baik untuk membangun tempat tinggal.
Bentuknya yang sangat sederhana dan menyatu dengan alam menjadi ciri khas bangunan ini. Rumah ini tidak memiliki jendela sama sekali dan untuk sirkulasi udara mereka hanya membuat lubang di lantai, mengapa? Supaya jika terjadi sesuatu di luar rumah mereka dapat melihatnya secara langsung dan tidak bermalas-malasan. Rumah ini juga dibangun dengan gotong-royong loh, hal tersebut menjadi bukti bahwa rasa kekeluargaan antar masyarakat sangatlah erat.

Rumah Adat Tanean Lanjhang (Madura)

 

Sumber : blogspot.com

Rumah adat yang bersal dari Madura ini merupakan permukiman tradisional masyarakat Madura yang terdiri atas kumpulan rumah-rumah yang terdiri dari keluarga-keluarga yang mengikatnya. Letknya sangatlah dekat dengan lahan yang biasa mereka garap untuk bercocok tanam, dekat dengan mata air atau sungai. Permukiman ini hanya dihuni oleh suatu kelompok keluarga saja, sedangkan letaknya sangat terpisah oleh masyarakat lainnya. Untuk bertahan hidup mereka hanya bergantung pada lahan mereka saja.

Rumah Adat Joglo Situbondo (Jawa Timur)

Sumber : perpustakaan.id

Nama dari rumah adat yang satu ini memanglah mirip dengan rumah joglo yang ada di Jawa tengah. Tetapi keduanya memiliki perbedaan, yakni kesederhanaan yang khas dari rumah joglo Situbondo ini, meskipun begitu rumah ini memiliki cita rasa seni yang tinggi. Karena letaknya yang ada di Situbondo, rumah ini dikenal sebagai rumah adat joglo Situbondo. Tak hanya di Situbondo saja tetapi juga ditemukan di Ponorogo.
Rumah ini sangatlah mencerminkan budaya jawa, terletak pada pondasi, tiang penyangga, tanah yang rata dan terbuat lebih tinggi dari sekelilingnya. Bahan dasar dari rumah ini adalah kayu jati, karena masyarakat setempat percaya bahwa kayu jati maerupakan kayu yang kuat, kokoh, dan dapat bertahan lama.

Rumah Adat Sunda (Jawa Barat)

Sumber : gedubar.com

Rumah adat khas Jawa Barat ini memiliki filosofi tersendiri, yang terdapat pada paduan warna dan designnya. Nama dari rumah adat sunda ini tergantung pada daerah asalnya masing-masing. Di jawa Barat sendiri terdapat 5 jenis rumah adat yang tentunya memiliki ciri khas da keunikannya masing-masing, yang dikenal dengan nama imah badak hauay, imah togog anjing, imah julang ngapak, imah jolopong, dan imah parahu kumereb.

Rumah Adat Kebaya (DKI Jakarta)

Sumber : imujio.com

Mengapa dikenal senagai rumah kebaya? Karena atap dari rumah ini yang terbengtuk seperti lipatan kebaya ketyika dilipat dari samping.atap rumah yang berbentuk seperti lipatan pelana membuat rumah ini sangat dikenal banyak orang. Rumah adat ini terbagi menjadi 5 ruangan yang terdiri dari paseban, teras, ruang tidur, pangkeng, dan srodoyan. Kelima ruangan tersebut digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Seperti tempat menerima tamu, tempat tidur, tempat untuk memasak, dan lain sebagainya.

Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar (Riau)

Sumber : anakpintar.web.id

Rumah adat dari Riau ini ternyata tidak berfungsi sebagai hunian, melainkan untuk tempat bermusyawarah atau acara rapat. Warga melayu Riau menyebut rumah ini dengan Balai Saloso Jatuh. Bangunan ini sekarang berjumlah sedikit sekali, karena warga riau sudah tidak menggunakannya lagi sebagai tempat bermusyawarah. Musyawarah dilakukan di rumah penghulu, sedangkan untuk urusan keagamaan mereka melakukannya di masjid. Selain ruang untuk dijadikan balai pertemuan, rumah tersebut juga terdiri dari ruang tidur yang luas, ruangan untuk bersila, anjungan, dapur.

Rumah Adat Belah Bubung (Kepulauan Riau)

Sumber : blogspot.com

Rumah adat ini terbentuk pada tahun 20002, bangunannya sama seperti kebanyakan rumah Melayu, strukturnya terbentuk seperti panggung dengan ketinggian mencapai 2 meter dari permukaan tanah. Mengapa rumah ini dinamai dengan bubung? Karena bubung (bambu) merupakan bahan dasar dari pembuatan rumah ini. Rumah ini dibangun dengan menggunakan bahan alam 100%, seperti kayu, papan, dan atapnya terbuat dari nipah atau daun rumbia. Rumah ini hanya digunakan sebagai hunian oleh masyarakat melayu yang tinggal di Kepulauan Riau. Fasilitas yang menunjang rumah ini yaitu terdapat selasar atau pendopo sebagai tempat menerima tamu, rumah induk untuk tempat tidur keluarga, dan penganggah sebagai dapur atau tempat menyimpan cadangan makanan. Rumah ini menggunakan berbagai ragam hias dalam pembuatannya. Dari mulai ragam hias flora, fauna, alam, kaligrafi, bahkan abstrak.

Rumah Adat Betang (Kalimantan Tengah)

Sumber : blogspot.com

Rumah adat ini biasanya terletak di hulu sungai yang menjadi pusat pemukiman suku Dayak. Ya, rumah adat betang ini hanya dihuni oleh suku Dayak yang ada di Kalimantan. Bangunannya sangatlah kuat dan berdiri kokoh karena bahan pembuatannya yang berasal dar kayu ulin, dengan begitu bangunan ini dapat berdiri ratusan tahun, dan bahkan rumah ini anti terhadap rayap. Bangunan yanng seperti panggung dapat menjadi pelindung penghuninya. Karena dapat melindungi dari seranbgan musuh yang tiba-tiba, binatang buas, dan bencana alam. Kita dapat menjumpai bangunan ini di tepi sungai besar kalimantan.

Rumah Adat Lamin (Kalimantan Timur)

Sumber : blogspot.com

Rumah tradisional ini ditetapkan sebagai rumah tradisional prvinsi Kalimantan Timur sejak tahun 1967. Uniknya rumah ini terdapat pada struktur bangunan dan juga banguannya yang sangat luas. Saking luasnya, rumah ini dapat menampung hingga 100 orang, bahkan lebih. Besarnya rumah ini mencerminkan masyarakat suku Dayak yang memeiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Karena rumah tersebut digunakan untuk tempat tinggal masyarakat Dayak yang menjadi suatu kelompok dalam satu rumah. Mereka dapat hidup damai dalam satu rumah. Didalam rumah tersebut juga terdapat banyak sekali ukiran yang menjadi ciri khas, ukiran tersebut tentunya juga memiliki makna tersendiri. Motifnya dapat berupa makhluk hidup, tumbuhan, kisa perburuan, dan sebagainya. Warnanya yang dipilihpun juga warna kontras seperti kuning, hitam, biru, merah, dan putih.

Rumah Adat Bubungan Tinggi (Kalimantan Selatan)

Sumber : indonesiakaya.com

Rumah adat ini merupakan rumah tradisional masyarakat suku banjar yang tinggal di Kalimantan Selatan. pada zaman dahulu, rumah ini digunakan sebagai keraton atau istana untuk tempat tinggal raja. Karena Kalimantan memiliki hutan yang rimba, maka mereka menggunakan bahan kayu sebagai kontruksi bangunan tersebut, karena bahan tersebut sangat melimpah. Pembagian rumah tradisional ini memiliki prinsip yang sama antara satu dengan yang lainnya. Dengan begitu dapat kita lihat bahwa rumah tradisional tersebut sangat berkaitan dengan niai tradisional masyarakatnya.

Rumah Adat Baloy (Kalimantan Utara)

Sumber : senibudayaku.com

Rumah yang merupakan hasil kebudayaan arsitektur masyarakat suku Tidung ini menggunakan tiang tinggi pada bangunan bawahnya. Rumah yang terbilang modern ini merupakn hasil dari pengembangan arsitektur rumah lamin yang dihuni oleh suku Dayak Kenyah.
Ruangan dalamnya teredapat empat ruang utama yang disebut ambir. Yakni ambir kiri yang digunakan sebagai tempat masyarakat mengadukan perkara, ambir tengah untuk tempat persidangan, ambir kanan sebagai tempat istirahat untuk berdamai setelah menyelesaikan perkara, dan lamin dalom sebagai singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung. Di bagian tengah terdapat kolam yang diberi nama Lubung Kilong dsan dibagian belakang ada ruangan yang disebut Lubung Intamu yang merupakan tempat pertemuan besar masyarakat suku Dayak, seperti pelantikan dan sebagainya.

Rumah Adat Pewaris (Sulawesi Utara)

Sumber : netralnews.com

Rumah adat ini biassa disebut Walewangko, yang merupakan rumah adat khas Minahasa, Sulawesi Utara. Bentuk rumah ini menyerupai rumah panggung. Sama seperti rumah panggung, fungsi dari rumah ini juga untuk menyimpan hasil panen warga, serta digunakan sebagai tempat untuk menghindari musuh. Rumah ini memiliki 26 tiang penyangga yang bahan dasarnya menggunakan kayu pada lantai dasarnya, dan lantai 1 menggunakan bahan kayu dan beton.

Rumah Adat Tambi ( Sulawesi Tengah)

Sumber : nesabamedia.com

Rumah tambi ini merupakan rumah yang berbentuk menyerupai rumah panggung yang memiliki tiang penyangga pendek yang tingginya hanya 1 meter. Tiang tersebut berjumlah 9 dan saling berdekatan satu sama lain dengan balok kayu yang dipasak. Selain dari kayu bahan pembuatan rumah ini juga menggunakan batu alam.
Atap pada rumah adat ini terbilang unik karena berbentuk prisma dengan sudut kecil di bagian atas. Untuk bahan dasar atapnya terbuat dari daun kering ijuk dan rumbia. Untuk saat ini rumah tradisional ini hanya menjadi simbol budaya masyarakat Sulawesi Tengah. Tetapi pada zaman dahulu rumh ini dihuni oleh masyarakat suku Kaili. Rumah ini tidak memiliki sekat, melainkan hanya ada satu ruangan yang multifungsi. Bisa digunakan untuk tidur, memasak dan kegiatan lainnya.

Rumah Adat Buton (Sulawesi Tenggara)

Sumber : pewartanusantara.com

Rumah Buton ini berasal dari Sulawesi Tenggara dan digunakan sebagai istana Sultan Buton. Keunikan dari bangunan ini adalah didirikan tanpa tali pengikat dan paku. Rumah ini cupuk dikaitkan saja. Bangunan yang berdiri kokoh ini hanya menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya. Rumah adat ini memiliki 4 lantai didalamnya. Lantai pertama lebih luas dari lantai kedua. Dan lantai keempat sedikit lebih lebar dari lantai ketiganya. Rumah ini sama sekali tidak menggunakan paku, melainkan menggunakan pasak atau paku kayu. Sungguh masyarakat Sulawesi Tenggara sangat mahir dalam melakukannya.

Rumah Adat Tongkonan (Sulawesi Selatan)

Sumber : tradisikita.my.id

Rumah tradisional yang dimiliki oleh masyarakat suku Toraja ini memiliki atap melengkung seperti perahu dan terbuat dari bahan bambu. Pada bagian depan terdapat tanduk kerbau . Di bagian dalam rumah ini digunakan sebagai tempat tidur dan dapur.
Di depan Tongkonan terdapat lumbung padi. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat menggunakanbatang pohon palem. Sedangkan pada bagian lumbung terdapat ukiran ayam dan matahari sebagai simbol untuk menyelesaikan perkara.

Rumah Adat Dulohupa (Gorontalo)

Sumber : 99.co

Rumah adat ini hampir sama dengan rumah panggung. Namun badannya terbuat dari papan dan atapnya memiliki strukrur khas Gorontalo. Di rumah ini terdapat hiasan berupa pilar kayu sebagai lambang dari rumah adat khas Grontalo. Pada bagian kanan dan kiri rumah ini terdapat dua tangga.
Saat ini rumah adat dulohupa ini tidak lagi digunakan sebagai hunian, namun sebagai tempat penjualan cendera mata dan tempat untuk menyimpan kereta kerjaan (Talanggeda). Serta terdapat taman bunga yang mungkin digunakan untuk menjadi daya tarik wisatawan

Rumah Adat Baileo (Maluku)

Sumber : nesabamedia.com

Rumah adat baileo ini merupakan rumah adat khas Maluku yang memiliki fungsi penting bagi masyarakat Maluku. Selain pada Masjid dan Gereja, rumah ini juga menjadi identitas bagi masyarakat Maluku. Rumah ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci, upacara adat, dan sebagai balai pertemuan. Bangunan ini cukup besar dibandingkan rumah-rumah lain disekitarnya.

Rumah Adat Sasadu (Maluku Utara)

Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

Rumah adat sasadu ini merupakan rumah adat yang berasal dari Maluku Utara. Rumah adat ini dihuni oleh suku Suhu si Halmahera Barat. kita dapat menjumpai rumah adat ini di setiap desa Halmahera Barat.
Biasanya rumah ini digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat setempat. Namun tidak hanya itu, tempat ini juga biasa digunakan sebagai tempat ritual dan upacara adat. Serta digunakan sebagai perayaan ketika panen, pemilihan ketua adat dan untuk menyambut tamu yang datang.
Pada zaman dahulu, atap rumah ini hanya terbuat dari daun sagu. Namun seiring berkembangnya zaman bahan dasar atap rumah ini sekaran diganti menjadi seng.

Rumah Adat Dalam Loka (Nusa Tenggara Barat)

Sumber : Pinterest

Rumah adat dalam loka ini berasal dari Nusa Tenggara Barat kabupaten Sumbawa. Rumah ini merupakan peninggalan Kerajaan Sumbawa. Dulunya merupakan istana yang dihuni oleh Raja beserta keluarganya. Bangunan ini berdiri pada tahun 1885.
Rumah yang berbentuk panggung ini memiliki luas 904 M2. Sehingga didalamnya terlihat sangat megah. Istana ini dibangun dengan kayu dan memiliki filosofi tersendiri. Didalam rumah ini juga terdapat ukiran-ukiran seperti bunga dan daun khas dari Pulau Sumbawa.

Rumah Adat Musalaki (Nusa Tenggara Timur)

Sumber : WordPress.comWordPress.com

Rumah adat yang berasal dai Nusa Tenggara Timur ini memiliki bentuk persegi empat dengan atapnya yang , menjulang tinggi. Atap tersebut merupakan simbol kesatuan dengan sang pencipta. Atapnya dibuat seperti perahu seperti cerita nenek moyang suku Ende Lio yang telah terbiasa menggunakan perahu.
Rumah ini hanya boleh dihuni oleh kepala adat suku Ende Lio saja. Selain sebagai tempa tinggal kepala adat, rumah ini juga digunakan sebagai tempat diadakannya ritual, kegiatan musyawarah dan kegiatan adat lainnya.

Rumah Adat Mod Aki Aksa (Papua Barat)

Sumber : pintarnesia.com

Rumah ini biasa disebut rumah kaki seribu. Rumah asli dari suku Arfak yang tinggal di daerah Manokwari, Papua Barat. Dijuluki demikian karena kita bisa melihat sendiri jika rumah tersebut memiliki banyak sekali penyangga yang mirip dengan hewan kaki seribu. Pada bagian atapnya hanya menggunakan tumpukan jerami atau daun sagu.
Rumah tersebut dapat digunakan untuk melindungi diri dari serangan musuh dan juga ilmu hitam. Rumah ini tidak memiliki jendela, supaya suhunya tetap terjaga. Dikarenakan penduduknyang tinggal didaerah pegunungan.

Rumah Adat Lgkojei (Teluk Cendrawasih)

 

Sumber : wajibbaca.com

Rumah adat lgkojei ini berasal dari Teluk Cendrawasih dari suku Wamesa. Rumah in dikatakan hampir sama dengan rumah kaki seribu karena sama-sama memiliki banyak penyangga. Atapnya lebih modern karena bentuknya lebih mirip dengan rumah panggung. Rumah ini juga memiliki banyak sekali fentilasi udara karena terdapat banyak lubang dibangunannya.

Nah seperti kita tahu bangunan-bangunan diatas memiliki arsitektur yang unik bukan? Sebagai warga Negara Indonesia yang baik kita perlu mengetahui berbagai warisan budaya yang diwarisi oleh nenek moyang kita serta menjaga dengan baik peninggalan-peninggalan tersebut.

 

Izzza.com. Menulis dengan penuh cinta. Sejak 2020