izzza.comizzza.com

Rumah Adat Aceh beserta Gambarnya

October 23, 2020 / Rumah Adat

Aceh merupakan salah satu provinsi yang istimewa di Indonesia. Selain itu, Aceh juga diberi wewenang otonomi khusus. Aceh sangat lekat dengan budaya Islam. Karena provinsi yang beribukota di Banda Aceh ini merupakan pintu masuk penyebaran Islam di Indonesia. Maka dari itu, budaya Aceh tercipta dari campur baur budaya Melayu dan Islam. Salah satu bukti akulturasi kedua budaya tersebut dapat kita lihat dari rumah adat Aceh atau biasa disebut Rumoh Aceh.

Bagi suku Aceh, segala sesuatu yang akan dilakukan harus berlandaskan kitab adat. Kitab adat ini dikenal dengan Meukeuta Alam. Salah satu isi dari kita tersebut terdapat tentang pendirian rumah adat. Selain itu, dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa dalam Rumoh Aceh bagian rumah serta pekarangannya menjadi milik anak perempuan atauibunya. Rumahbeserta pekarangannya ini tidak boleh dibelokkan dari hukum waris.
Saat ini Rumoh Aceh semakin jarang dijumpai karena masyarakat lebih memilih rumah beton. Namun, kita masih bisa menjumpai rumah ini di perkampungan penduduk. Ada dua pilihan tempat jika kita ingin menjumpai rumah Aceh ini.

Kita dapat berkunjung ke Museum Banda Aceh dan Rumoh Cut Nyak Dhien di Lampisang, Aceh Besar. Berikut ini penjelasan mengenai rumah adat Aceh.

Sumber : WordPress.com

Bentuk Rumah Adat Aceh

Rumah Adat Aceh dikenal dengan sebutan Krong Bade. Berbentuk menyerupai rumah panggung dan memiliki tiang setinggi 2,50-3 meter. Bentuknya juga seragam, berupa persegi empat memanjang dari timur ke barat. bentuk memanjang ini dipilih untuk memudahan penentuan arah kiblat.

Rumoh Aceh ini biasanya terbuat dari kayu dan atapnya terbuat dari daun rumbia. Di dalam rumah Aceh ini terdapat tiga sampai lima ruang, dengan ruang utama yang biasa disebut rambat. Rumah yang memiliki 3 ruang tiangnya berjumlah 16. Sedangkan rumah dengan 5 ruang tiangnya sebanyak 24.

Rumah tradisional Aceh ini memiliki pintu utama yang tingginya selalu lebih rendah dari tinggi orang dewasa. Biasanya pintu tersebut memiliki tinggi 120-150 cm saja. Sehingga setiap orang yang ingin masuk ke rumah tersebut harus menundukkan kepalanya.

Pintu rumah ini memang terlihat pendek, namun ruangan dalam rumah tersebut sangatlah luas. Rumah ini tifak memiliki perabotan seperti kursi sofa dan meja. Biasanya, tamu duduk diatas tikar yang telah disediakan oleh pemilik rumah.
Jika pemilik rumah memiliki kondisi ekonomi yang berkecukupan, maka di dalam rumah pasti akan terdapat ukiran serta ornament yang rumit. Sementara itu, jika pemilik rumah adalah rakyat biasa, maka tidak terdapat ukiran di dalamnya.

Komponen Utama Rumah Adat Aceh

Di setiap kabupaten atau kota Rumoh Aceh memiliki detil yang berbeda-beda. Walaupun memiliki detil yang berbeda rumah adat Aceh ini memiliki komponen utama yang sama. Berikut ini komponen-komponen utama dalam Rumoh Aceh :

1. Seuramoe-ukeu (Serambi Depan)

Ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu laki-laki. Terletak tepat di bagian depan rumah. Ruangan ini juga digunakan untuk menjadi tempat tidur dan juga tempat makan tamu laki-laki.

2. Seuramoe-Likoot (Serambi Belakang)

Fungsi utama rumah ini untuk menerima tamu perempuan. Terletak di bagian belakang rumah. Sama seperti serambi depan serambi ini berfungsi sebagai tempat tidur juga tempat makan untuk perempuan.

3. Rumoh inong (Rumah Induk)

Ruangan ini terletak diantara serambi depan dan serambi belakang. posisi ruangan ini dibuat lebih tinggi dan dibagi menjadi dua kamar. Keduanya dipisahkan dengan gang yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang.

4. Rumoh-Dapu (Dapur)

Dapur ini letaknya dekat dan tersambung dengan serambi belakang. lantai dari dapur ini posisinya sedikit lebih rendah jika dibandingkan lantai serambi belakang.

5. Seulasa (Teras)

Seulasa atau teras ini letaknya di bagian paling depan rumah. Letaknya juga menempel dengan serambi depan. Letak teras ini sudah ditentukan sejak dahulu dan tidak berubah sampai sekarang.

6. Kroong-Padee (Lumbung Padi)

Mayoritas masyarakat Aceh memiliki profesi sebagai petani. Maka dari itu, masyarakat Aceh menyediakan lumbung padi yang letaknya terpisah dari bangunan utama. Walaupun dibuat terpisah, lumbung padi tersebut letaknya tidak jauh dari rumah dan masih berada di pekarangan rumah. Letaknya juga variatif, bisa di samping, di belakang, atau di bagian depan rumah.

7. Keupaleh (Gerbang)

Tidak semua rumah adat Aceh memiliki gerbang. Gerbang biasanya hanya dimiliki oleh kalangan orang-orang berada atau tokoh masyarkat. Gerbang tersebut biasanya terbuat dari kayu dan dipayungi blik diatasnya.

8. Tamee (Tiang)

Tiang ini merupakan komponen utama yang wajib dimiliki oleh rumah adat Aceh. Tiang tersebut menjadi tumpuan utama rumah adat ini. bentuknya bulat dan memiliki diameter 20-35 cm dan tingginya 150-170 cm.

Setiap rumah adat Aceh memilikki jumlah tiang yang beragam, mulai dari 16, 20,24, dan 28 batang. Tiang ini juga berfungsi untuk memudahkan proses pemindahan rumah tanpa harus membongkarnya.

Tahapan Dalam Membangun Rumah Adat Aceh
Bagi masyarakat Aceh, membangun sebuah rumah seperti membangun kehidupan. Maka, haruslah memenuhi persyaratan dan bertahap. Rumoh Aceh ini dibangun secara cermat dan berlandas pengetahuan lokal masyarakat.

Oleh karena itu, rumah Aceh ini dapat berdiri kokoh hingga ratusan tahun, walaupun hanya dibuat menggunakan kayu. Tahap pembuatan rumah adat Aceh sebagai berikut :

1. Musyawarah
Sebelum rumah dibuat, masyarakat Aceh selalu mengadakan musyawarah dengan keluarga. Setelah mencapai kesepakatan, hasil perencanaan disampaikan kepada Teungku (Ulama) di kampung tersebut. Tujuannya adalah agar mendapatkan saran supaya rumah yang dibangun akan memiliki suasana tenang dan tentram.

Selain itu musyawarah juga dilakukan untuk memilih hari baik, pengadaan kayu pilihan, kenduri(pesta), dan sebagainya yang nantinya akan ditetapkan oleh Teungku.

2. Pengadaan Bahan
Setelah tercapai mufakat dari keluarga maupun Teungku, bahan akan diadakan. Bahan yang digunakan untuk pembangunan rumoh Aceh adalah kayu, trieng (bambu), daun rumbia, dan lain-lain.

Pengadaan bahan ini diadakan secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Kayu yang dipilih merupakan kayu yang tidak dililiti akar dan tidak menyangkut kayu lain saat ditebang.

3. Pengolahan Bahan
Kayu yang sudah dipilih nantinya akan dikumpulkan di suatu tempat yang teduh. Jika proses pembangunan masih lama, kayu akan di rendam dalam air. Proses tersebut bertujuan supaya kayu tidak dimakan oleh serangga. Setelah itu, kayu dibentuk sesuai kebutuhan.

4. Pendirian Rumah
Setelah semua proses sudah dilalui, maka pembangunan rumah dapat dimulai. Pembangunan diawali dengan membuat landasan untuk memancangkan kayu.

Kayu pertama kali dipancangkan pada tiang utama (tiang raja) dan diikuti oleh tiang lainnya. Setelah tiang-tiang tersebut dipasang, lalu dilanjutkan dengan membuat bagian tengah rumah.
Bagian tengah rumah meliputi lantai rumah dan dinding rumah. Setelah itu dilanjutkan dengan membuat bagian atas dan diakhiri dengan pemasangan atap. Tahap akhir dari pembangunan rumah ini adalah pemasangan ornament pendukung seperti ukiran hias dan lain sebagainya.

Manfaat Rumah Adat Aceh

a. Rumah Adat Krong Bade sebagai Identitas Suku Bangsa
Salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya identitas suku bangsa adalah budaya. Rumah adat Acdeh ini adalah salah satu produk dari sebuah kebudayaan, karena dalam perancangannya melibatkan unsur-unsur budaya.

b. Rumah Adat Krong Bade sebagai Rekam Jejak Masa Lalu
Dalam pembangunan rumah adat ini pasti akan memperhatikan nilai-nilai tertentu. Nilai tersebut kemudian akan diwariskan turun temurun melalui generasi ke generasi, supaya rumah adat dapat dibangun sama seperti para leluhur membangunnya.

c. Simbol Filosofi
Rumah adat Krong Bade menempatkan sebuah gentong di bagian depan rumah, karena masyarakat Aceh percaya bahwa mereka membasuh kaki sebelum masuk rumah untuk menghilangkan niat buruk.

d. Rumah Adat Krong Bade sebagai Hunian
Rumah adat ini juga memiliki fungsi sebagai hunian untuk masyarkat suku Aceh.

Keunikan Rumah Adat Krong Bade

1. Dibangun Menggunakan Paku
Bahan dari rumah adat ini menggunakan bahan alam, karena kehidupan masyarakat Aceh yang dekat dengan alam. Rumah adat Aceh juga tidak menggunakan paku sama sekali. Hanya menggunakan tali pengikat dari bahan rotan, tali ijuk, dan kulit pohon waru.

2. Ukiran Rumah Adat Krong Bade Perlambang Status Ekonomi.
Banyaknya ukirna pada rumah Krong Bade menentukan status ekonomi penghuninya. Semakin banyak ukiran, maka semakin baik dan sejahtera penghuni rumah tersebut.

3. Memberikan Hormat Setiap Memasuki Rumah Adat Krong Bade
Ukuran pintu yang kecil dari tinggi manusiabertujuan supaya setiap tamu memberikan salam hormat kepada pemilik rumah. Dan juga membungkuk sebelum memasuki rumah tanpa memandang status sosial tamu tersebut.

4. Anti Gempa
Struktur rumahini dibangun tanpa menggunakan paku,melainkan hanhya menggunakantali pengikat. Hal tersebut mmenbuat rumah ini anti terhadap gempa.

5. Jumlah Anak Tangga yang Ganjil
Di bagian depan rumah Aceh terdapat tangga yang berjumlah ganjil yang berjumlah tujuh sampai sembilan anak tangga. Hal tersebut merupakan simbol religius dari masyarakat suku aceh.

Nah itu tadi ulasan mengenai Rumah adat Aceh yang ada di Indonesia. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan kita mengenai beragam kebudayaan yang ada di Indonesia. Selamat membaca!

 

Izzza.com. Menulis dengan penuh cinta. Sejak 2020